Skip to content Skip to navigation

Telkomsel Kembangkan Teknologi Kamuflase BTS

Dilihat dari sisi teknologi, sebenarnya seberapa jauhkah kepedulian operator seluler terhadap lingkungan sekitarnya. Pertanyaan ini penting mengingat belum lama ini di Bali ramai diperbincangkan kemungkinan penggunaan Base Transceiver Station (BTS) bersama. Pasalnya, Bali yang merupakan pulau kecil kini sudah padat dipenuhi BTS. Bisa-bisa julukan Bali Seribu Pura harus diubah menjadi Bali Seribu BTS.

----------------------------------------

SEMUA orang juga sudah paham kalau Bali ini memang pulau yang sangat kecil. Tetapi meski kecil, Bali merupakan salah satu pasar potensial bagi para operator telepon bergerak atau yang biasa disebut telpon seluler (ponsel). Baik yang menggunakan teknologi Global System for Mobile Communications (GSM) maupun Code Division Multiple Access (CDMA) sama-sama berambisi menggarap pasar Bali. Akibatnya banyak BTS dibangun untuk menciptakan jaringan yang andal.

Telkomsel bisa dijadikan salah satu contoh getolnya operator seluler menggarap pasar Bali lewat keberhasilannya menjangkau seluruh ibu kota kecamatan (IKC) di Bali. Guna menunjang jangkauannya ke seluruh IKC di Bali ini, operator seluler berbasis GSM yang baru saja berulang tahun ke-11 pada 26 Mei ini menyediakan 370 BTS. Jumlah BTS Telkomsel ini paling banyak dibandingkan dua operator GSM lainnya, yang merupakan pesaing merebut pasar pengguna seluler. Bila ditotal jumlah BTS yang ada di Bali sangatlah banyak, tersebar di seluruh kabupaten/kota yang ada. Belum lagi jika dikaitkan dengan tower stasiun televisi, radio, internet service provider, dan radio panggil yang juga aktif beroperasi di Bali.

Bila keberadaan tower ini terus berkembang seiring majunya teknologi, sulit dibayangkan bagaimana rupa Bali nantinya. Kekhawatiran mengenai perwajahan Bali ke depan seiring berkembangnya teknologi telekomunikasi sempat dilontarkan Kepala Badan Informasi dan Telematika Daerah (BITD) Propinsi Bali I Gusti Ngurah Gde.

Dia melihat bila pembangunan tower dibiarkan tidak terkendali, keberadaannya akan merusak alam Bali. Hanya dia mengatakan Bali juga tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Berbagai kekhawatiran yang muncul ini pula yang kemudian menyebabkan pemerintah kabupaten/kota membatasi pembangunan tower. Ada ide agar para operator seluler maupun pengguna frekuensi bergerak memakai tower bersama.

Menurut pakar telematika Roy Suryo, solusi untuk meminimalisasi jumlah tower dan membuatnya lebih ramah lingkungan sudah ada. Diungkapkannya, isu tower dan kekhawatiran masyarakat terhadap keberadaannya yang makin hari semakin bertambah banyak tidak hanya dialami di Bali saja. Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa pun, isu ini masih hangat dibicarakan.

''Keinginan membuat tower yang lebih ramah lingkungan ini tidak hanya ada di Bali saja, di Eropa maupun Amerika Serikat juga terdapat pembicaraan terkait pembangunan tower yang ramah lingkungan. Bahkan, di Amerika Serikat ada tower yang dikamuflase sehingga berbentuk kaktus raksasa,'' katanya.

Teknologinya memang ada, hanya para operator seluler yang agaknya masih enggan berbagi. Ada beberapa pertimbangan yang dilontarkan operator terkait ide membangun tower bersama ini. Salah satunya seperti dikatakan Vice President Telkomsel Area Jawa-Bali Agus P. Simorangkir belum lama ini.

Dia mengatakan, bila investor pembangunan tower bisa mengatur kecepatan yang diinginkan tiap-tiap operator, mungkin realisasi penggunaan tower bersama bisa diwujudkan. Dia lebih setuju jika penggunaan kamuflase towerlah yang diutamakan di Bali. ''Kalau untuk kamuflase tower, kita sudah punya di beberapa tempat. Ada yang berbentuk pohon kelapa dan cemara,'' jelas pria yang akrab disapa Pak Simo ini.

Bahkan, untuk memperlihatkan kepedulian Telkomsel terhadap Bali sudah ada rancangan kamuflase BTS yang menggunakan style Bali. Dia mencontohkan penggunaan kulkul sebagai tempat untuk meletakkan BTS. Potensi pemanfaatan kulkul ini, menurut Agus Simorangkir, sangat besar, terlebih semua banjar di Bali memilikinya.

Dikatakannya, dari sisi teknologi pemanfaatan kulkul sangat memungkinkan. Pasalnya dengan teknologi sekarang, 1 antena yang dulu beratnya bisa sampai 18 kg kini bisa dikurangi hingga 50 persennya. Ini artinya antena itu masih bisa ditaruh di atas menara kulkul tanpa mesti menghabiskan tempat serta biaya yang besar seperti yang sekarang ini terjadi. Patung-patung yang jumlahnya cukup banyak di Bali pun bisa juga dijadikan tempat ditaruhnya antena untuk memperluas jaringan telekomunikasi bergerak.

Sebagai operator yang kini menempati posisi pertama dalam jumlah pelanggan nasional, sekitar 27,5 juta pelanggan pada April 2006, wajar jika Telkomsel menaruh perhatian besar terhadap keberadaan BTS ini. Selain jaringan, operator yang memperoleh izin operator GSM pada 1995 ini juga masih konsisten melayani pelanggannya lewat tiga bidang, yaitu pasar, industri, dan lingkungan. Dari sisi pasar, Telkomsel mengklasifikasikannya ke dalam tiga item, yaitu jaringan, layanan, dan produk. Dilihat dari lingkungan pun, dibagi menjadi kesehatan dan pendidikan. Sementara di sisi industri, Telkomsel terus melakukan inovasi dengan berfokus pada bisnis dan evolusi teknologi.

Bicara mengenai evolusi teknologi ini, Telkomsel dalam waktu dekat akan mengaplikasikan layanan seluler terbaru yang sangat ditunggu-tunggu penikmat teknologi canggih, yaitu 3G. Kalau kita rajin mencermati layar televisi belakangan ini, dua dari tiga pemegang lisensi 3G, yaitu Telkomsel dan Excelcomindo, sudah memamerkan iklan layanan 3G mereka. Ini artinya dua operator GSM ini sudah siap ''berperang'' memperebutkan pasar pengguna selular, khususnya yang memang menantikan layanan 3G. Realisasinya agaknya dalam waktu dekat ini sudah bisa dinikmati hanya kabarnya layanan 3G ini masih relatif mahal. * diah dewi

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/6/20/ip2.htm